Archive for 2014

Laporan Pendahuluan Cerebral Palsy

LAPORAN PENDAHULUAN
DENGAN CEREBRAL PALSY






Oleh :
Andi Fahrul Tamsir
Prima Mahartanto
Raudati Heldayani


KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN
JURUSAN KEPERAWATAN
BANJARBARU
2014




LAPORAN PENDAHULUAN ANAK DENGAN
CEREBRAL PALSY


A.         DEFINISI
Cerebral palsy ialah suatu gangguan nonspesifik yang disebabkan oleh abnormalitas system motor piramida (motor kortek,basal ganglia dan otak kecil)yang ditandai dengan kerusakan pergerakan dan postur pada serangan awal. (Suriadi Skep : 2006,hal 23-27)
Cerebral palsy adalah kerusakan jaringan otak yang kekal dan tidak progresif,terjadi pada waktu masih muda (sejak dilahirkan) sertamerintangi perkembangan otak normal denga gambaran klinik dapat berubah selama hidup dan menunjukkan kelainan dalam sikap dan pergerakan,disertai kelainan neurologis berupa kelumpuhan spastis ,gangguan ganglia basal dan sebelum juga kelainan mental. (Ngastiyah : 2000,hal 54-56)
Cerebral palsy ialah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun waktu dalam perkembangan anak,mengenai sel-sel motorik didalam susunan saraf pusat,bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya. (Yulianto : 2000,http:// www.medicastore .com)

B.          ETIOLOGI
Penyebab Cerebral palsy dapat dibagi menjadi dalam 3 bagian :
1.      Pranatal
a.     Infeksi intrauterin  TORCH, sifilis, rubella, toksoplasmosis, dan sitomegalovirus
b.      Radiasi
c. Asfiksia intrauterin (abrupsio plasenta previa,anoksia maternal,kelainan umbilicus,perdarahan plasenta,ibu hipertensi,dan lain-lain)
d.      Toksemia grafidarum
2.      Perinatal
a.       Anoksia/hipoksia
b.      Perdarahan otak
c.       Prematuritas
d.      Ikterus
e.       Meningitis purulenta
3.      Postnatal
a.       Trauma kepala
b.      Meningitis/ensefalitis yang terjadi 6 bulan pertama kehidupan
c.       Racun : logam berat
d.      Luka Parut pada otak pasca bedah
Beberapa penelitian menyebutkan factor pranatal dan perinatal lebih berperan dari pada factor pascanatal.Studi oleh nelson dkk(1986) menyebutkan bayi dengan berat lahir rendah,asfiksia saat lahir,iskemia pranatal,faktor penyebab Cerebral palsy.
Faktor prenatal dimulai saat masa gestasi sampai saat akhir,sedangkan factor perinatal yaitu segala faktor yang menyebabkan Cerebral palsy mulai dari lahir sampai satu bulan kehidupan.Sedangkan faktor pascanatal mulai dari bulan pertama kehidupan sampai 2 tahun.(Hagbreg dkk,1975),atau sampai 5 tahun kehidupan (Blair dan Stanley,1982),atau sampai 16 tahun (Perlstein,Hod,1964)

C.         GEJALA
Gejala biasanya timbul sebelum anak berumur 2 tahun dan pada kasus yang berat,bisa muncul pada saat anak berumur 3 bulan.
Gejalanya bervariasi,mulai dari kejanggalan yang tidak tampak nyata sampai kekakuan yang berat,yang menyebabkan bentuk lengan dan tungkai sehingga anak harus memakai kursi roda.
Cerebral palsy Dibagi menjadi 4 kelompok :
1.      Tipe spastic atau pyramidal (50% dari semua kasus CP,otot-otot menjadi kaku dan lemah
Pada tipe ini gejala yang hampir selalu ada adalah :
a.         HIpertoni (fenomena pisau lipat)
b.        Hiperrefleksi yag disertai klonus
c.         Kecenderungan timbul kontraktur
d.        Reflex patologis
Secara topografi distribusi tipe ini adalah sebagai berikut :
a.       Hemiplegia apabila mengenai anggota gerak sisi yang sama
b.      Spastik diplegia, mengenai keempat anggota gerak, anggota gerak atas sedikit lebih berat.
c.       Kuadriplegi, mengenai keempat anggota gerak, anggota gerak atas sedikit lebih berat.
d.      Monopologi, bila hanya satu anggota gerak.
e.       Triplegi apabila mengenai satu anggota gerak atas dan dua anggota gerak bawah, biasanya merupakn varian dan kuadriplegi.
2.      Tipe disginetik (koreatetoid,20% dari semua kassus CP),otot lengan,tungkai dan badan secara spontan bergerak perlahan,menggeliat dan tak terkendali;tetapi bisa juga timbul gerakan yang kasar dan mengejang. Luapan emosi menyebabkan keadaan semakin memburuk,gerakan akan menghilang jika anak tidur.
3.      Tipe ataksik, (10% dari demua kasus CP)terdiri dari tremor,langkah yang goyah dengan kedua tungkai terpisah jauh, gangguan kooordinasi dan gerakan abnormal.
4.      Tipe Campuran (20% dari semua kasus CP),merupakan gabungan dari 2 jenis diatas ,yang sering ditemukan adalah gabungan dari tipe spastik dan koreoatetoid.
Berdasarkan derajat kemampuan fungsional :
1.      Ringan :
Penderita masih bisa melakukan pekerjaan/aktifitas sehari-hari sehingga sama sekali tidak atau hanya sedikit sekali membutuhkan bantuan khusus.
2.      Sedang
Aktifitas sangat terbatas.penderita membutuhkan bermacam-macam bantuan khusus atau pendidikan khusus agar dapat mengurus dirinya sendiri,dapat bergerak dan berbicara. Dengan pertolongan secara khusus,diharapkan penderita dapat mengurus diri sendiri,berjalan atau berbicara sehingga dapat bergerak,bergaul ,hidup di tengah masyarsakat dengan baik.
3.      Berat
Penderita sama sekali tidak bisa melakukan aktifitas fisik dan tidak mungkin dapat hidup tanpa pertolongan orang lain. Pertolongan atau pendidikan khusus yang diberikan sangat sedikit hasilnya.sebaiknya penderita seperti ini ditampung dengan retardasi mental berat,atau yang akan menimbulkan gangguan sosial-emosional baik bagi keluarganya maupun lingkungannya.

Gejala lain yang juga bisa dimukan pada CP :
1.      Kecerdasan dibawah normal
2.      Keterbelakangan mental
3.      Kejang/epilepsy (trauma pada tipe spastik)
4.      Gangguan menghisap atau makan
5.      Pernafasan yang tidak teratur
6.      Gangguan perkembangan kemampauan motorik (misalnya menggapai sesuatu, duduk, berguling, merangkak, berjalan)
7.      Gangguan berbicara (disatria)
8.      Gangguan penglihatan
9.      Gangguan pendengaran
10.  Kontraktur persendian
11.  Gerakan menjadi terbatas

D.    MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis cerebral palsy tergantung dari bagian dan luas jaringan otak yang mengalami kerusakan :
1.      Spastisitas
Terdapat peninggian tonus otot dan reflek yang disertai dengan klonus dan reflek Babinski kerusakan yaitu :
a.       Monoplegia / monoparesis
Kelumpuhan keempat anggota gerak,tapi salah satu anggota gerak lebih hebat dari yang lainnya.
b.      Hemiplegia / hemiparisis
Kelumpuhan lengan dan tungkai dipihak yang sama.
c.       Diplegia / diparesis
Kelumpuhan keempat anggota gerak,tapi tungkai lebih hebat dari pada lengan.
d.      Tetraplegia / tetraparesis
Kelumpuhan keempat anggota gerak,tapi lengan lebih atau sama hebatnya dibandingkan dengan tungkai yang lain.
2.      Tonus otot yang berubah
Bayi pada usia bulan pertama tampak flasid dan berbaring seperti kodok terlentang, sehingga tampakseperti keainan pada “lower motor neuron“ menjelang umur 1 tahun berubah menjadi tonus otot dari rendah hingga tinngi. Golongan ini meliputi 10-20% dari kasus “cerebral palsy”
3.      Ataksia
Ialah gangguan koordinasi kerusakan terletak di serebulum, terdapat kira-kira 5% dari kasus “cerebral palsy”
4.      Gangguan pendengaran
Terdapat pada 5-10% anak dengan “cerebral palsy”.gangguan berupa kelainan neurogen terutama persepsi nada tinggi,sehingga sulit menangkap kata-kata. 
5.      Gangguan bicara
Disebabkan oleh gangguan pendengaran atau retardasi mental. Gerakan yang terjadi dengan sendirinya dibibir dan dilidah menyebabkan sukar mengontrol otot-otot sehingga sulit membentuk kata-kata dan sering tampak anak berliur.
6.      Gangguan mata
Biasanya berupa strabismus convergen dan kelainan refraksi, asfiksia berat, dapat terjadi katarak, hampir 25% penderita “cerebral palsy” menderita kelainan mata.

E.     PATOFISIOLOGI
Adanya malformasi pada otak, penyumbatan pada vaskuler, atropi, hilangnya neuron dan degenerasi laminar akan menimbulkannarrower gry, saluran sulci dan berat otak rendah.
Anoxia merupakan penyebab yang berarti dengan kerusakan otak, atau sekunder dari penyebab mekanisme yang lain. CP (Cerebral Palsy) dapat dikaitkan dengan premature yaitu spastic displegia yang disebabkan oleh hypoxic infarction atau hemorrhage dalam ventrikel.
Type athetoid / dyskenetik disebabkan oleh kernicterus dan penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, adanya pigmen berdeposit dalam basal ganglia dan beberapa saraf nuclei cranial. Selain itu juga dapat terjadi bila gangsal banglia mengalami injury yang ditandai dengan idak terkontrol; pergerakan yang tidak dosadari dan lambat.
Type CP himepharetic, karena trauma pada kortek atau CVA pada arteri cerebral tengah. Cerebral hypoplasia; hipoglicemia neonatal dihubungkan dengan ataxia CP.
Spastic CP yang paling sering dan melibatkan kerusakan pada motor korteks yang paling ditandai dengan ketegangan otot dan hiperresponsif. Refleks tendon yang dalam akan meningkatkan dan menstimulasi yang dapat menyebabkan pergerakan sentakan yang tiba-tiba pada sedikit atau semua ektermitas.
Ataxic CP adanya injury dari serebelum yang mana mengatur koordinasi, keseimbangan dan kinestik. Akan tampak pergerakan yang tidak terkoordinasi pada ekstremitas aras bila anak memegang / menggapai benda. Ada pergerakan berulang dan cepat namun minimal.
Rigid / tremor / atonic CP ditandai dengan kekakuan pada kedua otot fleksor dan ekstensor. Type ini mempunyai prognosis yang buruk karena ada deformitas multiple yang terkait dengan kurangnya pergerakan aktif.
Secara umum cortical dan antropy cerebral menyebabkan beratnya kuadriparesis dengan retardasi mental dan microcephaly.

F.     PENGOBATAN / TERAPI
Tapi tidak dapat disembuhkan dan merupakan kelainan yang berlangsung seumur hidup. Tetapi banyak hal yang dapat dilakukan agar anak bisa hidup semandiri mungkin.
Pengobatan yang dilakukan biasanya tergantung kepada gejala dan bisa berupa :
1.      Terapi fisik
2.      Loraces (penyangga)
3.      Kaca mata
4.      Alat bantu dengar
5.      Pendidikan dan sekolah khusus
6.      Obat anti kejang
7.      Obat pengendur otot (untuk mengurangi tremor dan kekakuan) : baclofen dan diazepam
8.      Terapi okupasional
9.      Bedah ortopedik / bedah saraf, untuk merekonstruksi terhadap deformitas yang terjadi
10.  Terapi wicara bisa memperjelas pembicaraan anak dan membantu mengatasi masalah makan
11.  Perawatan (untuk kasus yang berat)
Jika tidak terdapat gangguan fisik dan kecerdasan yang berat, banyak anak dengan cp yang tumbuh secara normal dan masuk ke sekolah biasa. Anak lainnya memerlukan terapi fisik yang luas. Pendidikan khusus dan selalu memerlukan bantuan dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari.
Pada beberapa kasus, untuk membebaskan kontraktur persendian yang semakin memburuk akibat kekakuan otot, mungkin perlu dilakukan pembedahan. Pembedahan juga perlu dilakukan untuk memasang selang makanan dan untuk mengendalikan pefluks gastroesofageal.

ASUHAN KEPERAWATAN
G.    Pengkajian
1.      Pengumpulan data
a.       Kaji riwayat kehamilan ibu
b.      Kaji riwayat persalinan
c.       Identifikasi anak yang mempunyai resiko
d.      Kaji iritabel anak, kesukaran dalam makan/menelan, perkembangan yang terlambat dari anak normal, perkembangan pergerakan kurang, postur tubuh yang abnormal, perkembangan pergerakan kurang, postur tubuh yang abnormal, refleks bayi yang persisten, ataxic, kurangnya tonus otot.
e.       Monitor respon bermain anak
f.       Kaji fungsi intelektual
g.      Tidak koordinasi otot ketika melakukan pergerakan (kehilangan keseimbangan)
h.      Otot kaku dan refleks yang berlebihan (spasticas)
i.        Kesulitan mengunyah, menelan dan menghisap serta kesulitan berbicara.
j.        Badan gemetar
k.      Kesukaran bergerak dengan tepat seperti menulus atau menekan tombol.
l.      Anak-anak dengan cerebral palsy mungkin mempunyai permasalahan tambahan, termasuk yang berikut: kejang, masalah dengan penglihatan dan pendengaran serta dalam bersuara, terdapat kesulitan belajar dan gangguan perilaku, keterlambatan mental, masalah yang berhubungan dengan masalah pernafasan, permasalahan dalam buang air besar dan buang air kecil, serta terdapat abnormalitas bentuk ulang seperti scoliosis.
m.   Riwayat penyakit dahulu : kelahiran prematur, dan trauma lahir.
n. Riwayat penyakit sekarang : Kelemahan otot, Retardasi Mental, Gangguan hebat- Hipotonia, Melempar/ Hisap makan, gangguan bicara /suara, visual dan mendengar.

2.      Diagnosa yang Mungkin Muncul
a.       Gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan kecacatan multifaset
b.      Gangguan sensori persepsi visual berhubungan dengan strabismus
c.  Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan factor biologis.
d.      Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan kesukaran dalam artikulasi.
e.       Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan spasme dan kelemahan otot-otot.

3.      Intervensi Keperawatan
a.       Diagnosa keperawatan : Gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan kecacatan multiphase.
·         Tujuan: Klien tidak mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan
·      Kriteria Hasil : Pertumbuhan dan perkembangan klien tidak mengalami keterlambatan dan  sesuai dengan tahapan usia

No.
Intervensi
Rasional
1.
Memberikan diet nutrisi untuk pertumbuhan (Asuh)
Mempertahankan berat badan agar tetap stabil
2.
Memberikan stimulasi atau rangsangan untuk perkembangan kepada anak (Asah)
Agar perkembangan klien tetap optimal
3.
Memberikan kasih sayang (Asih)
Memenuhi kebutuhan psikososial


b.    Diagnosa keperawatan : Gangguan sensori persepsi visual berhubungan dengan strabismus
·         Tujuan :                   
Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu
Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhdap perubahan
Mengidentifikasi/memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan
·         Kriteria Hasil :
Peningkatan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu
Klien memahami dengan gangguan sensori yang dialami dan dapat beradaptasi
Bahaya disekitar klien terminimalisir.
No.
Intervensi
Rasional
1.
Tentukan ketajaman penglihatan, apakah satu atau kedua mata terlibat
Kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab kehilangan penglihatan lambat dan progresif
2.
Orientasikan klien terhadap lingkungan, staff, dan orang lain disekitarnya
Memberikan peningkatan kenyamanan dan kekeluargaan, menurunkan cemas dan disorientasi pasca operasi
3.
Observasi tanda-tanda dan gejala disorientasi, pertahankan pagar tempat tidur sampai benar-benar pulih
Mengurangi resiko bingung/jatuh karena gangguan persepsi
4.
Letakkan barang yang dibutuhkan
Memungkinkan klien melihat objek lebih mudah


c.       Diagnosa Keperawatan : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan factor biologis
·          Tujuan :
Terpenuhinya Intake nutrisi
Terpenuhinya energy
Berat Badan naik
No.
Intervensi
Rasional
1.
Monitor status nutrisiklien
Memantau  nutrisi klien agar lebih baik
2.
Monitor pemasukan nutrisi dan kalori.
Mengobservasi nutrisi dan kalori klien
3.
Catat adanya anoreksia, muntah dan terapkan jika ada hubungan dengan medikasi.
Dengan mengobservasi adanya muntah dan anoreksia dapat mencatat keadaan klien
4.
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan nutrisi dan kalori agar BB naik.
Dengan menentukan kebutuhan nutrisi dan kalori yang diperlukan klien, diharapkan BB klien dapat naik


d.      Diagnosa Keperawatan : Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan kesukaran dalam artikulasi
·          Tujuan :
Anak akan mengespresikan tentang kebutuhan dan mengembangkan Berat Badan dalam batas normal
No.
Intervensi
Rasional
1.
Kaji respon dalam berkomunikasi
Respon dalam berkomunikasi menunjukkan keadaan klien dalam berinteraksi
2.
Ajarkan dan kaji makna non verbal
Bahasa non verbal dapat membantu dalam berkomunikasi klien
3.
Latih dalam penggunaan bibir, mulut dan lidah.
Melatih pergerakkan bibir, mulut dan lidah agar artikulasi klien jelas
4.
Sering berikan pujian positif kepada anak yang berusaha untuk berkomunikasi
Pujian yang positif dapat membantu klien untuk lebih termotivasi
5.
Gunakan kartu/gambar-gambar/papan tulis untuk memfasilitasi komunikasi
Alat bantu sepeti kartu/gambar-gambar/papan tulis agar komunikasi lebih terbantu
6.
Berikan perawatan dalam sikap yang rileks, tidak terburu-buru, dan menghakimi
Dengan memberikan sikap yang rileks dapat membantu klien menjadi lebih nyaman dan tenang


e.       Diagnosa Keperawatan : Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan spasme dan kelemahan otot-otot
·          Tujuan : Anak akan memiliki kemampuan pergerakan yang maksimum dan tidak mengalami kontraktur
No.
Intervensi
Rasional
1.
Ajarkan cara berkomunikasi dengan kata-kata yang pendek
Dengan mengajarkan anak menggunakan kata-kata pendek meningkatkan kemampuan anak dalam berbicara
2.
Ajak untuk latihan yang berbeda-beda pada ekstremitas
Latihan dapat meningkatkan kemampuan otot-otot
3.
. Kaji per  Gerakan sendi-sendi dan tonus otot
Melatih gerakan sendi-sendi dan tonus otot
4.
Lakukan Terapi fisik Untuk menggerakkan anggota tubuh
Terapi fisik dapat membantu kemampuan anak
6.
Berikan periode istirahat.
Dengan memberikan periode istirahat dapat membuat kondisi klien menjadi lebih baik





DAFTAR PUSTAKA

Behrman, Kliegman, Arvin, 1999. Ilmu Kesehatan Anak Volume 3 Edisi 15 Nelson, Jakarta : EGC
Dr. Soetjiningsih, SpAK, 1995. Tumbuh Kembang Anak, Jakarta : EGC
Santi Wijaya, Skep. Ns, 1999. Lumpuh Otak, Bandung :http//:id.wikipedia.org
Soetomenggolo, Taslim S, 1999. Buku Ajar Neurologi Anak, Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia
Supriadi Skp dkk, 2006. Asuhan Keperawatan Pada Anak, Jakarta : Sagung Seto
Yulianto, 2000. Cerebral Palsy Pada Anak, Jakarta :http://www.pediatrik.com. 20 april 2008

Wong Donna L, 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Edisi 4, Jakarta : EGC

- Copyright © Catatan Mahasiswa - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Published by Responsive blogger Templates-